Gamolan Pekhing, Musik Bambu yang Menjaga Jiwa Lampung Barat

Saat bilah-bilah bambu dipukul, suara yang muncul terasa ringan, hangat, dan alami. Dentingnya mungkin tidak sekeras alat musik berbahan logam, tetapi justru memiliki karakter unik yang mampu menghadirkan suasana khas pegunungan Lampung Barat.

Alat musik tersebut dikenal sebagai Gamolan Pekhing. Masyarakat Lampung juga kerap menyebutnya dengan nama cetik, kemungkinan karena bunyi “tik” yang terdengar ketika bilah bambunya dipukul.

Instrumen tradisional ini tumbuh dan berkembang di wilayah Bumi Sekala Beghak, yang dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan masyarakat Lampung.

Gamolan bukan sekadar alat untuk menghasilkan melodi. Di dalamnya tersimpan cerita masyarakat agraris, keterampilan memilih bambu, pola permainan yang diwariskan antargenerasi, serta hubungan antara seni dan kehidupan adat.

Kini, suara Gamolan Pekhing tidak hanya terdengar dalam lingkungan tradisional. Instrumen tersebut juga tampil dalam festival, kegiatan pemerintahan, pertunjukan pariwisata, pendidikan, hingga kolaborasi dengan musik modern.

Apa Itu Gamolan Pekhing?

Gamolan Pekhing adalah alat musik pukul tradisional Lampung yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Bentuknya menyerupai xilofon atau gambang karena memiliki sejumlah bilah bernada yang disusun berurutan di atas wadah resonansi.

Dalam kajian organologi, instrumen ini termasuk kelompok idiofon. Artinya, sumber bunyinya berasal dari getaran badan alat musik itu sendiri ketika dipukul, bukan dari senar, selaput, atau aliran udara.

Walaupun namanya terdengar mirip dengan gamelan, Gamolan Pekhing bukan gamelan Jawa. Perbedaan paling mudah terlihat pada bahan pembuatannya. Gamelan umumnya didominasi logam, sedangkan gamolan menggunakan bambu yang menghasilkan warna suara lebih ringan dan alami.

Di Liwa dan beberapa daerah Lampung Barat, instrumen ini juga disebut cetik. Sebutan tersebut dipercaya menirukan suara pendek yang muncul ketika pemukul menyentuh bilah bambu.

Asal Nama Gamolan Pekhing

Nama Gamolan Pekhing terdiri atas dua kata yang mempunyai hubungan kuat dengan alam. Dalam salah satu kajian akademik, kata gamolan dikaitkan dengan istilah gimol atau megimol, yaitu suara gemuruh dari ruas-ruas bambu yang bergesekan akibat tiupan angin.

Sementara itu, pekhing atau pering berarti bambu dalam bahasa Lampung. Secara sederhana, Gamolan Pekhing dapat dipahami sebagai alat musik gamolan yang terbuat dari bambu.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa nama instrumen ini lahir dari pengalaman masyarakat terhadap lingkungan di sekitarnya. Bambu bukan sekadar bahan yang mudah ditemukan, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan dan pegunungan.

Dari tanaman inilah warga membuat peralatan rumah tangga, bangunan, wadah, hingga alat musik. Bunyi bambu yang awalnya hadir secara alami kemudian diolah menjadi susunan nada yang teratur.

Berasal dari Bumi Sekala Beghak

Gamolan Pekhing dikenal sebagai salah satu warisan musik dari Bumi Sekala Beghak atau Sekala Brak di Lampung Barat.

Peneliti etnomusikologi Margaret Kartomi menyebut bahwa gamolan beserta repertoarnya telah dibentuk dan dikembangkan selama beberapa generasi di wilayah leluhur masyarakat Lampung tersebut.

Tidak ada satu catatan tertulis yang dapat memastikan tanggal pertama pembuatannya. Oleh karena itu, berbagai cerita mengenai usia Gamolan Pekhing perlu dipahami sebagai tradisi lisan atau perkiraan berdasarkan penelitian budaya.

Ada sumber yang memperkirakan instrumen ini telah dikenal sejak ratusan tahun lalu.

Cerita lain menyebut bahwa sekitar abad ke-17, gamolan awalnya dimainkan oleh bujang khapok atau mekhanai yang telah berusia dewasa sebagai hiburan pribadi, kemudian berkembang menjadi alat komunikasi untuk mengumpulkan masyarakat.

Kajian lain menghubungkannya dengan masa Hindu dan pertemuan berbagai pengaruh budaya di Sumatra. Namun, pendapat tersebut masih bersifat interpretatif dan belum dapat dianggap sebagai kronologi sejarah yang sepenuhnya pasti.

Hal yang lebih jelas adalah bahwa Gamolan Pekhing tumbuh dalam lingkungan masyarakat agraris dan pegunungan. Instrumen ini merepresentasikan kedekatan warga Lampung Barat dengan pertanian, bambu, serta kehidupan komunal.

Bentuk dan Bahan Pembuatan Gamolan Pekhing

Gamolan tradisional umumnya digambarkan mempunyai delapan bilah bambu. Bilah-bilah tersebut disusun dari ukuran besar ke kecil agar menghasilkan urutan nada rendah hingga tinggi.

Kajian Margaret Kartomi juga mencatat bentuk gamolan delapan bilah yang dimainkan oleh dua orang menggunakan pemukul kayu.

Namun, tidak semua Gamolan Pekhing modern memiliki susunan yang persis sama. Penelitian terhadap gamolan buatan Zairi, seorang pengrajin di Way Empulu Ulu, menemukan bentuk dengan tujuh bilah bernada dan menggunakan laras yang disebut laras Gimol.

Perbedaan jumlah bilah ini menunjukkan bahwa gamolan mengalami perkembangan. Ada bentuk lama yang tetap dipertahankan, tetapi ada juga perangkat yang disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan, pertunjukan, kolaborasi, atau sistem nada modern.

Pemilihan Bambu Tidak Bisa Sembarangan

Sebuah penelitian organologi mencatat penggunaan bambu betung dan bambu hijau sebagai bahan utama. Bambu harus dipilih dengan kondisi yang baik karena usia, ketebalan, kadar air, dan ukuran ruas dapat memengaruhi bunyi yang dihasilkan.

Proses pembuatannya meliputi penjemuran, pemotongan, penghalusan, pengecatan, pelarasan, dan perakitan. Pada salah satu metode pembuatan, bilah-bilah bambu dipasang menggunakan tali nilon, meskipun perangkat tradisional juga dapat menggunakan bahan pengikat lain.

Bagian bawah bilah biasanya diberi ruang atau tabung resonansi. Ketika bilah dipukul, getarannya diperkuat oleh ruang tersebut sehingga suaranya terdengar lebih jelas.

Pelarasan menjadi tahap yang cukup sulit. Pengrajin harus mengikis bagian tertentu dari bilah sedikit demi sedikit sampai memperoleh tinggi nada yang diinginkan. Kesalahan mengikis dapat membuat nada terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Cara Memainkan Gamolan Pekhing

Gamolan dimainkan dengan cara memukul bilah bambunya menggunakan pemukul kecil dari kayu. Dalam bentuk tradisional, satu perangkat dapat dimainkan oleh dua orang yang duduk di belakang instrumen.

Pemain utama disebut menjalankan bagian begamol. Ia memainkan pola melodi pada enam bilah. Pemain lainnya menjalankan bagian gelitak dengan memainkan dua bilah tersisa untuk membentuk pola ritmis yang saling mengisi.

Pembagian tersebut membuat musik gamolan terdengar hidup. Satu pemain tidak hanya mengikuti pemain lainnya, tetapi harus menjaga ketepatan tempo dan memahami kapan pola melodi serta ritme bertemu.

Dalam pertunjukan ansambel, gamolan dapat dipadukan dengan tala atau gong, gindang yang berbentuk gendang dua sisi, serta rujih berupa simbal kuningan. Kombinasi tersebut menghasilkan lapisan bunyi yang lebih ramai dibandingkan permainan gamolan tunggal.

Gamolan juga dapat mengiringi vokal, pantun, dan tarian. Fleksibilitas inilah yang membuatnya tetap relevan untuk acara adat maupun pertunjukan masa kini.

Fungsi Gamolan dalam Kehidupan Masyarakat

Pada awal perkembangannya, Gamolan Pekhing dapat dimainkan sebagai hiburan pribadi. Suaranya menemani waktu senggang sekaligus menjadi sarana bagi pemain untuk mengekspresikan perasaan.

Fungsinya kemudian meluas menjadi alat komunikasi sosial. Bunyi gamolan digunakan sebagai penanda atau panggilan agar masyarakat berkumpul dalam kegiatan tertentu.

Dalam lingkungan adat, gamolan hadir pada pesta pernikahan, penyambutan tamu, kegiatan panen, dan berbagai pertemuan masyarakat. Instrumen ini juga dapat memainkan tabuhan adat maupun lagu nonadat.

Gamolan dapat mengiringi sastra lisan Lampung seperti hahiwang, muayak, bebandung, dan bentuk pantun lainnya. Karena itu, perannya bukan hanya musikal, tetapi juga membantu menjaga bahasa, cerita, dan ekspresi lisan masyarakat.

Dalam konteks modern, fungsinya semakin luas. Gamolan dimainkan pada festival, pembukaan acara resmi, promosi pariwisata, pertunjukan sekolah, hingga aransemen lagu populer.

Makna Budaya di Balik Denting Bambu

Bunyi Gamolan Pekhing mencerminkan kesederhanaan sekaligus kreativitas masyarakat. Dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, warga mampu menciptakan alat musik dengan sistem nada dan teknik permainan yang khas.

Instrumen ini juga menggambarkan kerja sama. Permainan tradisional membutuhkan dua pemain yang harus menjaga tempo, mendengarkan satu sama lain, dan membagi peran secara seimbang.

Nilai tersebut sesuai dengan kehidupan masyarakat komunal. Sebuah pertunjukan tidak hanya bergantung pada pemain, tetapi juga melibatkan pengrajin, tokoh adat, keluarga, penari, penyanyi, dan penonton.

Gamolan akhirnya menjadi penanda identitas. Ketika denting bambunya terdengar, masyarakat tidak hanya mendengar melodi, tetapi juga mengenali jejak kebudayaan Lampung Barat.

Perubahan dari Alat Adat Menjadi Musik Modern

Pada paruh kedua abad ke-20, Gamolan Pekhing masih relatif kurang dikenal di luar Sekala Beghak. Perubahan besar terjadi ketika pemerintah, seniman, peneliti, dan lembaga pendidikan mulai memperkenalkannya sebagai salah satu simbol budaya Lampung.

Dalam proses tersebut, muncul gamolan dengan sistem nada diatonis agar lebih mudah dipadukan dengan instrumen modern. Gamolan kemudian dimainkan secara berkelompok dan digunakan untuk membawakan repertoar yang lebih beragam.

Adaptasi tersebut membawa manfaat karena generasi muda dapat mempelajarinya melalui lagu yang sudah mereka kenal. Gamolan juga dapat berkolaborasi dengan gitar, keyboard, perkusi, vokal, atau orkestra.

Namun, bentuk tradisional tetap penting untuk dijaga. Modernisasi sebaiknya tidak menghilangkan tabuhan lama, istilah lokal, teknik dua pemain, serta cerita masyarakat pemiliknya.

Dengan begitu, inovasi tidak menggantikan tradisi. Keduanya dapat berjalan berdampingan dan memperluas ruang hidup Gamolan Pekhing.

Pelestarian Gamolan Pekhing

Gamolan Pekhing telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam kategori seni pertunjukan sejak 2014 dengan nomor registrasi 201400116. Pengakuan tersebut menegaskan bahwa gamolan merupakan bagian penting dari kekayaan budaya Lampung Barat.

Pelestarian dilakukan melalui sanggar, kegiatan sekolah, pelatihan, pertunjukan pemerintah, dan festival budaya. Gamolan juga diperkenalkan sebagai atraksi wisata di Desa Wisata Rigis Jaya, Kecamatan Air Hitam.

Pada Festival Budaya Sekala Bekhak XII tahun 2026, tabuhan Gamolan Pekhing kembali menjadi bagian penting dalam rangkaian acara. Festival tersebut menjadi ruang bagi masyarakat Lampung Barat untuk menampilkan sekaligus merawat kesenian lokal.

Tantangan terbesarnya bukan hanya mencari pemain, tetapi juga menjaga keberadaan pengrajin. Tanpa orang yang memahami pemilihan bambu, proses pengeringan, pembuatan bilah, dan pelarasan nada, alat musik ini akan semakin sulit diproduksi.

Gamolan Pekhing merupakan musik tradisional Lampung Barat yang lahir dari kedekatan masyarakat dengan bambu dan alam pegunungan.

Instrumen ini tidak hanya dimainkan sebagai hiburan, tetapi juga berfungsi dalam kegiatan adat, komunikasi sosial, penyambutan tamu, pengiring sastra lisan, serta pertunjukan budaya.

Perjalanannya memperlihatkan bahwa tradisi dapat terus hidup melalui adaptasi. Gamolan kini hadir dalam pendidikan, pariwisata, festival, dan kolaborasi musik modern tanpa harus kehilangan bentuk dasarnya.

Mari ikut melestarikan Gamolan Pekhing dengan menonton pertunjukan lokal, mempelajari cara memainkannya, mendukung pengrajin, dan memperkenalkan musik bambu Lampung Barat kepada generasi berikutnya.

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan Gamolan Pekhing?

Gamolan Pekhing adalah alat musik pukul tradisional Lampung Barat yang terbuat dari bilah-bilah bambu dan dimainkan menggunakan pemukul kayu.

2. Apa nama lain Gamolan Pekhing?

Masyarakat Lampung sering menyebutnya cetik. Nama tersebut diperkirakan berasal dari bunyi “tik” yang muncul ketika bilah bambu dipukul.

3. Berapa jumlah bilah Gamolan Pekhing?

Bentuk tradisional sering digambarkan memiliki delapan bilah. Namun, terdapat pula gamolan modern dengan tujuh bilah atau susunan nada yang telah disesuaikan.

4. Bagaimana cara memainkan Gamolan Pekhing?

Bilah bambu dipukul menggunakan pemukul kayu. Dalam bentuk tradisional, gamolan dimainkan oleh dua orang yang membagi bagian melodi dan ritme.

5. Apakah Gamolan Pekhing termasuk warisan budaya?

Ya. Gamolan Pekhing tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Lampung Barat dalam kategori seni pertunjukan sejak 2014.