Ketika mendengar nama Rigis Jaya, banyak orang langsung membayangkan kebun kopi robusta yang membentang di kawasan perbukitan.
Gambaran itu memang tepat, tetapi kehidupan ekonomi di pekon ini sebenarnya lebih beragam daripada sekadar kegiatan menanam dan memanen kopi.
Di balik perkebunan tersebut, terdapat petani, pengolah kopi, penjual makanan, pemandu wisata, pengrajin, pengelola homestay, hingga anak muda yang membantu pemasaran digital.
Mereka menjadi bagian dari ekosistem UMKM Lokal Pekon Rigis Jaya yang tumbuh seiring perkembangan Kampung Kopi sebagai desa wisata.
Produk yang dihasilkan juga terus berkembang. Biji kopi kini tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi kopi bubuk, minuman seduh, makanan ringan, teh cascara, bahkan produk kreatif nonpangan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa potensi desa bisa memberikan manfaat lebih besar ketika hasil alam, keterampilan masyarakat, dan pariwisata dikelola bersama. Mari mengenal lebih dekat usaha-usaha lokal yang menghidupkan perekonomian Pekon Rigis Jaya.
Rigis Jaya Tumbuh Bersama Perkebunan Kopi
Pekon Rigis Jaya terletak di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat. Wilayahnya berada sekitar 55 kilometer dari Liwa dan memiliki bentang alam perbukitan yang didominasi oleh kebun kopi robusta.
Profil Desa Wisata Rigis Jaya mencatat luas wilayahnya sekitar 824,67 hektare. Dari luas tersebut, kurang lebih 498,34 hektare digunakan sebagai perkebunan kopi robusta dengan angka produksi pada profil desa mencapai sekitar 1.058 ton per tahun.
Data produksi tersebut dapat berubah mengikuti musim dan kondisi tanaman. Kopi akhirnya menjadi fondasi bagi banyak kegiatan usaha.
Petani menyediakan bahan baku, pengolah mengubahnya menjadi produk siap jual, sementara pelaku wisata memperkenalkan perjalanan kopi kepada pengunjung.
Kehadiran fasilitas seperti kafetaria, kios suvenir, tempat makan, balai pertemuan, dan homestay semakin membuka ruang usaha bagi masyarakat.
Artinya, manfaat perkebunan tidak berhenti pada musim panen, tetapi dapat dirasakan melalui kegiatan ekonomi sepanjang tahun.
BUMDes Kampung Kopi sebagai Penggerak Usaha Desa
Salah satu lembaga yang berperan penting dalam pengembangan ekonomi setempat adalah BUMDes Kampung Kopi.
Walaupun secara kelembagaan berbeda dari usaha mikro milik perorangan, BUMDes menjadi penghubung penting dalam ekosistem UMKM Lokal Pekon Rigis Jaya.
Penelitian Universitas Lampung menjelaskan bahwa BUMDes Kampung Kopi dimiliki oleh Pekon Rigis Jaya dan dikelola oleh warga setempat. Fokus usahanya adalah mengolah kopi milik masyarakat menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Peran seperti ini sangat penting bagi desa penghasil komoditas. Jika hasil kebun hanya dijual sebagai biji mentah, sebagian besar nilai tambah akan diperoleh oleh pengolah dan pemasar di luar wilayah.
Melalui kegiatan pengolahan lokal, masyarakat dapat terlibat dalam penyangraian, penggilingan, pengemasan, penyimpanan, hingga penjualan. Rantai usaha tersebut membuka pekerjaan yang lebih beragam, termasuk bagi warga yang tidak memiliki kebun luas.
BUMDes juga dapat menjadi ruang belajar bersama. Pengelolaan produksi, pencatatan stok, pemasaran, dan pelayanan konsumen membutuhkan kemampuan yang berbeda dari kegiatan budidaya di kebun.
Kopi Rigis Menjadi Produk Utama
Produk paling dikenal dari usaha lokal Rigis Jaya tentu saja Kopi Rigis. Kopi bubuk ini menggunakan bahan baku dari perkebunan masyarakat dan membawa nama daerah asalnya langsung pada kemasan.
Penelitian tentang strategi pemasaran Kopi Rigis menyebut BUMDes Kampung Kopi sebagai usaha agroindustri yang memproduksi kopi bubuk dengan merek Kopi Rigis.
Penelitian tersebut juga menemukan adanya tantangan berupa banyaknya pesaing dalam industri sejenis dan promosi yang masih terbatas.
Membawa nama Rigis pada produk merupakan langkah penting. Konsumen tidak hanya membeli minuman, tetapi juga mengenal asal biji, masyarakat petani, dan kawasan tempat kopi tersebut ditanam.
Kopi Rigis dapat dipasarkan sebagai bubuk siap seduh maupun biji sangrai. Bentuk bubuk lebih praktis bagi konsumen yang biasa membuat kopi tubruk, sedangkan biji sangrai cocok untuk pembeli yang ingin menggiling kopi sesuai metode seduhnya.
Pengemasan menjadi bagian dari kualitas
Kemasan kopi tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus. Wadah yang baik membantu menjaga produk dari udara, kelembapan, cahaya, dan aroma lain yang dapat menurunkan mutu.
Informasi pada label juga perlu diperhatikan. Nama produk, berat bersih, komposisi, tanggal produksi, identitas pengolah, tingkat sangrai, serta rekomendasi penyeduhan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen.
Cerita pendek mengenai petani atau kebun Rigis Jaya juga bisa menjadi pembeda. Produk kopi di pasar sangat banyak, tetapi tidak semuanya memiliki kisah asal yang jelas dan hubungan langsung dengan desa wisata.
Olahan Cascara dan Camilan Berbasis Kopi
Perkembangan usaha lokal Rigis Jaya tidak hanya berpusat pada kopi bubuk. Bagian lain dari buah kopi mulai dimanfaatkan untuk menciptakan produk baru, termasuk kulit buah yang dikenal sebagai cascara.
Pada Januari 2025, mahasiswa KKN Tematik Institut Teknologi Sumatera bersama masyarakat meluncurkan sejumlah inovasi berbasis kopi di Kampung Kopi Rigis Jaya. Produk tersebut meliputi teh cascara, cookies cascara, dan eggroll coffee.
Teh cascara dibuat dari kulit buah kopi yang telah dibersihkan dan dikeringkan. Ketika diseduh, rasanya berbeda dari kopi hitam karena cenderung lebih ringan dan dapat menampilkan karakter seperti buah kering.
Cookies cascara menawarkan cara lain memanfaatkan bahan yang sebelumnya kurang bernilai. Sementara itu, eggroll coffee menggabungkan tekstur renyah dengan aroma kopi sehingga cocok dikembangkan sebagai oleh-oleh.
Inovasi tersebut memberi dua manfaat. Limbah atau hasil samping perkebunan dapat dimanfaatkan, sedangkan masyarakat memperoleh peluang menciptakan produk yang menjangkau konsumen selain peminum kopi.
Namun, produk yang diperkenalkan melalui kegiatan pelatihan belum tentu selalu tersedia dalam stok rutin. Pengunjung sebaiknya menghubungi pengelola desa wisata untuk mengetahui barang yang sedang diproduksi dan dipasarkan.
Pisang dan Produk Kuliner Pedesaan
Selain kopi, masyarakat Rigis Jaya juga mengandalkan pisang sebagai salah satu hasil perkebunan. Komoditas ini bahkan telah disebut sebagai potensi lain ketika kawasan Rigis Jaya mulai dikembangkan menjadi Kampung Kopi.
Pisang dapat ditanam sebagai tanaman sela di kawasan kebun kopi. Hasilnya kemudian dijual sebagai buah segar maupun diolah menjadi makanan yang mempunyai masa simpan lebih panjang.
Paket wisata Rigis Jaya turut memperkenalkan pisang garagas sebagai salah satu kuliner yang berasal dari potensi perkebunan setempat. Pengunjung juga dapat menikmati bancaan atau kepungan, yaitu kegiatan makan bersama dengan sajian pedesaan.
Olahan seperti keripik pisang, sale, kue, atau makanan rumahan berpotensi menjadi sumber pendapatan bagi kelompok perempuan dan usaha keluarga. Produk tersebut juga melengkapi kopi karena wisatawan biasanya mencari camilan untuk dinikmati atau dibawa pulang.
Agar mampu memasuki pasar lebih luas, produk kuliner memerlukan rasa yang konsisten, kemasan kuat, label lengkap, masa simpan jelas, serta pemenuhan izin usaha dan keamanan pangan yang sesuai.
Produk Kreatif dari Kopi dan Bahan Alam
Kopi ternyata dapat dikembangkan menjadi produk nonpangan. Program KKN Tematik ITERA pada 2025 juga memperkenalkan lilin aromaterapi berbahan kopi dan masker kopi sebagai bagian dari inovasi masyarakat.
Lilin aromaterapi menawarkan pengalaman menikmati aroma kopi tanpa harus menyeduh minuman. Produk seperti ini cocok dijadikan suvenir, penghias ruangan, atau bagian dari paket hadiah.
Masker kopi masuk dalam kategori produk perawatan tubuh sehingga pengembangannya membutuhkan perhatian lebih besar. Komposisi, petunjuk pemakaian, kebersihan produksi, masa simpan, peringatan alergi, dan perizinannya harus dipersiapkan dengan baik sebelum dijual luas.
Di luar produk kopi, portal Jadesta juga mencatat Gelang Jenitri dan ukiran bambu sebagai produk wisata Rigis Jaya. Gelang tersebut menggunakan biji jenitri yang disortir dan dirangkai menjadi aksesori, sedangkan ukiran bambu menawarkan kerajinan dekoratif berbahan alam.
Keberagaman produk ini membuat identitas Kampung Kopi semakin lengkap. Rigis Jaya tidak hanya dikenal sebagai tempat membeli minuman, tetapi sebagai ruang tumbuhnya kerajinan dan ekonomi kreatif.
Jasa Wisata Juga Menjadi Bagian dari UMKM
UMKM desa wisata tidak selalu menghasilkan barang. Jasa yang diberikan kepada pengunjung juga merupakan sumber penghasilan penting bagi masyarakat.
Di Rigis Jaya, warga dapat terlibat sebagai pemandu kebun, barista, pengelola kedai, penyedia makanan, pengelola homestay, petugas parkir, atau pendamping kegiatan budaya.
Desa wisata ini menyediakan program edukasi mulai dari pembibitan, budidaya, pascapanen, penyangraian, hingga penyeduhan.
Ada pula kelas penyeduhan dengan metode seperti V60 dan espresso, paket susur kebun, eksplorasi Bukit Rigis, pertunjukan Tari Nyambai, serta Gamolan Pekhing. Semakin banyak kegiatan yang tersedia, semakin besar pula ruang keterlibatan warga.
Jasa wisata memiliki keunggulan karena mampu meningkatkan nilai satu komoditas tanpa menghabiskan produknya secara langsung. Kebun yang sama dapat dikunjungi banyak kelompok, sedangkan pengetahuan petani dapat menjadi materi edukasi yang terus digunakan.
Bagi pemuda desa, sektor ini membuka pekerjaan baru. Mereka dapat menjadi pemandu, fotografer, pengelola media sosial, pembuat video, barista, atau administrator pemesanan.
Peran Perempuan dan Generasi Muda
Pengembangan usaha desa dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi perempuan. Kegiatan mengolah makanan, membuat camilan, merancang kemasan, mengelola pesanan, dan melayani wisatawan dapat dilakukan melalui kelompok usaha maupun rumah tangga.
Generasi muda juga mempunyai posisi strategis. Mereka umumnya lebih dekat dengan teknologi digital, fotografi, desain grafis, marketplace, dan media sosial.
Kolaborasi antargenerasi akan menghasilkan usaha yang lebih kuat. Petani senior memiliki pengetahuan mengenai kebun dan mutu bahan baku, sementara anak muda dapat membantu mengubah pengetahuan tersebut menjadi cerita visual dan materi pemasaran.
Program pelatihan bersama perguruan tinggi memperlihatkan peluang kolaborasi tersebut. Mahasiswa tidak hanya membawa gagasan produk, tetapi juga memberikan pelatihan dan mendorong masyarakat meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Namun, keberlanjutan tetap berada di tangan masyarakat. Produk yang lahir dari pelatihan perlu diteruskan melalui pembagian tugas, perencanaan produksi, evaluasi pasar, dan pendampingan setelah program selesai.
Digitalisasi Membuka Pasar yang Lebih Luas
Lokasi Rigis Jaya yang jauh dari pusat kota menjadi tantangan tersendiri. Pelaku usaha tidak bisa hanya mengandalkan pembeli yang datang secara langsung karena jumlah kunjungan wisata dapat berubah mengikuti musim.
Digitalisasi menjadi salah satu jalan untuk memperluas pasar. Pada kunjungan ADWI 2021, Telkom memperkenalkan solusi konektivitas sekaligus mendukung digitalisasi UMKM di Agrowisata Kampung Kopi. Tujuannya adalah membantu produk lokal menjangkau pasar lebih luas.
Media sosial dapat digunakan untuk menampilkan proses panen, penyangraian, pengemasan, hingga cerita petani. Konten seperti ini terasa lebih personal daripada sekadar memasang foto produk dan harga.
Marketplace dan layanan pesan singkat juga memudahkan konsumen melakukan pemesanan kembali setelah pulang dari Rigis Jaya. Agar berjalan lancar, pelaku usaha perlu menyiapkan katalog, informasi stok, metode pembayaran, biaya pengiriman, dan pelayanan pelanggan.
Digitalisasi bukan hanya soal membuat akun media sosial. Pelaku UMKM perlu mengelolanya secara rutin, merespons pertanyaan, memperbarui produk, dan menjaga kualitas barang yang diterima pembeli.
Tantangan yang Masih Perlu Dihadapi
Salah satu tantangan utama UMKM adalah konsistensi. Produk yang terasa enak hari ini harus tetap mempunyai mutu serupa ketika dibeli kembali pada bulan berikutnya.
Ketersediaan bahan baku juga perlu diatur. Penelitian terhadap Kopi Rigis menunjukkan pentingnya perencanaan stok agar produksi tidak terhenti sekaligus tidak menimbulkan biaya penyimpanan berlebihan.
Promosi menjadi persoalan berikutnya. Kajian pemasaran Kopi Rigis menemukan bahwa persaingan industri kopi cukup tinggi dan kegiatan promosi masih perlu diperkuat.
Pelaku usaha juga membutuhkan kemampuan dalam pencatatan keuangan, penetapan harga, pengurusan izin, desain kemasan, fotografi produk, dan pelayanan konsumen. Tanpa pengelolaan tersebut, produk bagus dapat sulit berkembang.
Infrastruktur dan konektivitas tetap berpengaruh. Jalan, internet, alat produksi, ruang pengolahan, serta sistem pengiriman menentukan apakah usaha lokal mampu memenuhi pesanan secara tepat waktu.
Peluang UMKM Rigis Jaya di Masa Depan
Peluang UMKM Lokal Pekon Rigis Jaya masih sangat besar karena desa ini memiliki identitas yang kuat. Kopi, bentang alam, pengetahuan petani, kuliner, dan kebudayaan dapat dikembangkan menjadi rangkaian produk yang saling melengkapi.
Kopi kemasan bisa dijual bersama cookies cascara dan kerajinan sebagai paket hadiah. Homestay dapat menawarkan sarapan lokal, sementara pemandu kebun dapat menghubungkan wisatawan dengan kedai serta kios suvenir.
Produk juga dapat dibuat dalam beberapa kelas harga. Kemasan kecil cocok untuk oleh-oleh, sedangkan paket premium dapat ditujukan kepada perusahaan, hotel, restoran, atau acara resmi.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah, komunitas kreatif, dan sektor swasta masih diperlukan. Namun, pengembangan tersebut sebaiknya tetap menempatkan masyarakat sebagai pengelola utama agar manfaat ekonominya tidak berpindah ke pihak luar.
Wisatawan pun mempunyai peran sederhana tetapi penting. Membeli langsung dari warga, menggunakan jasa pemandu, menginap di homestay, dan membagikan pengalaman positif dapat membantu usaha lokal terus berkembang.
UMKM Lokal Pekon Rigis Jaya tumbuh dari hubungan erat antara perkebunan kopi, kreativitas masyarakat, dan kegiatan pariwisata.
Kopi Rigis menjadi produk utama, tetapi peluang usaha telah berkembang menuju teh cascara, camilan, pisang olahan, produk aroma, kerajinan, homestay, kuliner, serta jasa edukasi.
BUMDes, petani, kelompok usaha, perempuan, dan generasi muda mempunyai peran yang saling melengkapi. Tantangannya adalah menjaga mutu, memperkuat promosi, mengelola persediaan, melengkapi izin, dan memanfaatkan teknologi digital secara konsisten.
Saat berkunjung ke Kampung Kopi, jangan hanya menikmati pemandangannya. Belilah produk warga, gunakan layanan lokal, tanyakan cerita pembuatannya, dan bantu memperkenalkan UMKM Rigis Jaya kepada lebih banyak orang.
FAQ
1. Apa produk UMKM utama di Rigis Jaya?
Produk utamanya adalah Kopi Rigis yang diolah dari biji kopi robusta masyarakat. Selain itu, terdapat kuliner, olahan cascara, kerajinan, dan berbagai produk inovasi berbasis kopi.
2. Siapa yang mengelola Kopi Rigis?
Kopi Rigis diolah melalui BUMDes Kampung Kopi yang dimiliki Pekon Rigis Jaya dan dikelola oleh warga setempat.
3. Apa saja produk turunan kopi yang pernah dikembangkan?
Produk yang pernah diperkenalkan meliputi teh cascara, cookies cascara, eggroll coffee, lilin aromaterapi berbahan kopi, dan masker kopi.
4. Apakah wisatawan dapat membeli kerajinan lokal?
Ya. Rigis Jaya memiliki kios suvenir dan produk wisata seperti Gelang Jenitri serta ukiran bambu. Ketersediaan produk sebaiknya dikonfirmasi kepada pengelola.
5. Bagaimana cara mendukung UMKM Rigis Jaya?
Wisatawan dapat membeli produk langsung dari warga, menggunakan pemandu lokal, menginap di homestay, menikmati kuliner desa, serta mempromosikan produk secara bertanggung jawab.
