Nama sebuah desa biasanya tidak muncul begitu saja. Ada yang berasal dari bentuk alam, nama tokoh, peristiwa tertentu, hingga harapan masyarakat yang hidup di dalamnya.
Begitu pula dengan Rigis Jaya, sebuah pekon di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat, yang kini lebih dikenal melalui hamparan kebun dan agrowisata Kampung Kopi.
Di balik namanya yang sederhana, terdapat cerita mengenai perbukitan bergerigi, kawasan bambu yang pernah terbakar, perpindahan masyarakat, serta musyawarah warga ketika membentuk pemerintahan pekon.
Asal-Usul Nama Rigis Jaya akhirnya menjadi bagian penting dari identitas masyarakat, bukan sekadar keterangan yang tertulis pada papan nama desa. Cerita tersebut juga memperlihatkan hubungan erat antara manusia dan lingkungan.
Bukit, hutan, kebun kopi, jalan tanah, dan kehidupan para petani ikut membentuk perjalanan Rigis Jaya. Dari sebuah wilayah yang dahulu memiliki keterbatasan infrastruktur, pekon ini perlahan tumbuh menjadi desa wisata berbasis masyarakat yang dikenal hingga tingkat nasional.
Nama Rigis Berasal dari Bentuk Perbukitan
Dokumen profil pekon yang dikutip dalam penelitian tentang Desa Wisata Kampung Kopi menyebutkan bahwa kata “Rigis” berarti bergerigi. Nama tersebut diambil dari bentuk perbukitan di sekitar wilayah pekon yang tampak tidak rata dan menyerupai gerigi.
Dalam sumber tersebut, nama Rigis Jaya dimaknai sebagai wilayah perbukitan yang bergerigi. Penjelasan ini terasa masuk akal ketika melihat kondisi geografis daerah Air Hitam yang didominasi kawasan bergelombang, kebun, lereng, dan perbukitan.
Menariknya, dokumen sejarah pekon tidak menjelaskan kata “Jaya” secara terpisah. Nama Rigis Jaya dicatat sebagai satu kesatuan yang menggambarkan kawasan perbukitan tempat masyarakat membangun permukiman dan menjalankan kehidupan sehari-hari.
Nama itu sekaligus menjadi penanda lokasi. Sebelum menjadi nama pekon secara administratif, masyarakat sudah mengenal bentang alam di sekitarnya sebagai Bukit Rigis.
Cerita Bukit Terbakar yang Tampak seperti Gergaji
Selain versi administratif, masyarakat setempat juga mengenal cerita lisan tentang Bukit Rigis. Dalam cerita yang dipublikasikan sejumlah media lokal, wilayah tersebut dahulu berupa perbukitan yang dipenuhi bambu kapur cukup lebat.
Beberapa titik di kawasan itu dikisahkan pernah terbakar akibat kegiatan perburuan. Setelah api padam, bagian pepohonan dan rumpun bambu yang tersisa terlihat tidak beraturan. Dari kejauhan, bentuknya menyerupai gerigi pada mata gergaji.
Dari pemandangan itulah masyarakat kemudian menyebut kawasan tersebut sebagai Bukit Rigis. Beberapa sumber juga mengaitkan kata Rigis dengan bahasa Semendo, yang digunakan untuk menggambarkan bukit terbakar dengan bentuk bergerigi.
Cerita mengenai bukit terbakar sebaiknya dipahami sebagai tradisi lisan masyarakat. Sementara itu, dokumen pemerintahan lebih menekankan arti “bergerigi” dan hubungannya dengan bentuk perbukitan. Keduanya tidak harus dianggap saling bertentangan karena sama-sama berpusat pada ciri visual Bukit Rigis.
Rigis Jaya Menjadi Nama Pekon melalui Musyawarah
Nama Rigis Jaya secara resmi digunakan ketika masyarakat mengusulkan pembentukan pekon baru. Sebelumnya, wilayah ini merupakan bagian dari Pekon Gunung Terang.
Pada 7 Februari 2010, perwakilan tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, dan para sesepuh dari tiga wilayah kepemangkuan mengadakan musyawarah. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan pekon baru dan memberinya nama Rigis Jaya.
Pekon Rigis Jaya kemudian diresmikan oleh Bupati Lampung Barat pada 11 Mei 2010. Sugeng ditunjuk sebagai penjabat peratin atau kepala pekon pertama.
Dua hari setelah peresmian, masyarakat kembali mengadakan rapat. Mereka menyepakati pembagian wilayah dari tiga menjadi empat pemangku, yaitu Atar Obar, Wana Jaya, Buluh Kapur, dan Rejosari.
Proses tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan Rigis Jaya tidak hanya dilakukan melalui keputusan pemerintah. Masyarakat terlibat sejak pemilihan nama, penataan wilayah, hingga pembentukan struktur pemerintahannya.
Cerita Masyarakat dari Berbagai Latar Belakang
Rigis Jaya dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang budaya yang beragam. Profil pekon yang digunakan dalam penelitian tahun 2022 mencatat keberadaan warga Jawa, Lampung, Sunda, dan Semendo. Pada periode pendataan tersebut, penduduk dari suku Jawa disebut sebagai kelompok yang dominan.
Keberagaman itu membuat cerita Rigis Jaya tidak dapat dikaitkan dengan satu kelompok saja. Pengaruh masyarakat Semendo terlihat dalam cerita asal nama Bukit Rigis, sedangkan perkembangan permukiman juga dibentuk oleh keluarga-keluarga dari berbagai daerah.
Walaupun memiliki latar belakang berbeda, masyarakat membangun kehidupan bersama melalui kegiatan pertanian, musyawarah, dan gotong royong. Sikap kekeluargaan serta partisipasi warga bahkan disebut sebagai faktor pendukung penting dalam pengembangan desa wisata Rigis Jaya.
Cerita masyarakatnya bukan hanya tentang siapa yang datang lebih dahulu. Hal yang lebih penting adalah bagaimana warga kemudian membentuk identitas bersama sebagai masyarakat Rigis Jaya.
Kehidupan Awal Pekon yang Penuh Keterbatasan
Saat baru berdiri, kondisi Rigis Jaya belum seperti yang terlihat sekarang. Jalan utama masih berupa tanah liat sehingga sulit dilewati ketika musim hujan. Pekon tersebut juga belum memiliki balai pemerintahan yang memadai.
Musyawarah dan kegiatan pemerintahan terkadang harus dilaksanakan di musala, rumah peratin, atau rumah warga. Fasilitas umum dibangun secara bertahap seiring berkembangnya pemerintahan pekon.
Keterbatasan akses membuat Rigis Jaya pernah dikategorikan sebagai wilayah tertinggal dan relatif terisolasi. Penelitian mengenai pengembangan agrowisata kopi juga mencatat bahwa minimnya infrastruktur menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi masyarakat.
Namun, keadaan tersebut tidak membuat warga berhenti berkembang. Pertemuan masyarakat, kegiatan karang taruna, kelompok tani, dan kerja sama dengan pemerintah menjadi bagian dari usaha panjang untuk memperbaiki kondisi pekon.
Cerita masa awal ini penting karena menunjukkan bahwa perkembangan Rigis Jaya tidak berlangsung secara instan. Ada proses panjang yang melibatkan kesabaran dan kerja kolektif.
Kopi Menjadi Pengikat Kehidupan Masyarakat
Jika nama Rigis berasal dari perbukitannya, maka kehidupan masyarakatnya banyak dibentuk oleh kopi. Sebagian besar kawasan Rigis Jaya berupa perkebunan, dengan kopi robusta sebagai salah satu komoditas utama.
Profil Desa Wisata Rigis Jaya mencatat sekitar 498,34 hektare lahan perkebunan kopi dengan produktivitas yang dicantumkan mencapai kurang lebih 1.058 ton per tahun. Data pada profil tersebut juga menyebutkan bahwa wilayah desa berada pada ketinggian sekitar 860-1.310 meter di atas permukaan laut.
Bagi warga, kopi bukan hanya produk yang dijual setelah panen. Pengetahuan mengenai pembibitan, perawatan, pemetikan buah merah, pengeringan, penyangraian, dan penyeduhan diwariskan melalui pengalaman keluarga.
Kehidupan di kebun juga membentuk ritme sosial masyarakat. Musim panen menjadi masa sibuk, sementara kegiatan mengolah dan menjual kopi membuka ruang kerja bagi petani, pemuda, perempuan, pelaku UMKM, dan pengelola wisata.
Karena itulah, ketika mencari potensi yang dapat dikembangkan, masyarakat tidak perlu menciptakan identitas baru. Mereka cukup mengolah kekuatan yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dari Cerita Lokal Menjadi Kampung Kopi
Gagasan pengembangan Kampung Kopi mulai memperoleh dukungan besar sekitar 2017. Pemerintah pekon dan masyarakat ingin menjadikan kawasan tersebut bukan hanya sebagai tempat produksi, tetapi juga pusat edukasi mengenai kopi robusta Lampung Barat.
Program tersebut dikembangkan melalui musyawarah yang melibatkan aparatur pekon, masyarakat, tokoh lokal, dan Kelompok Sadar Wisata. Penelitian mengenai agrowisata berbasis masyarakat menyebutkan bahwa warga dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, hingga evaluasi kegiatan.
Pada Juli 2018, Agrowisata Kampung Kopi mulai mendapatkan ruang resmi untuk dikembangkan. Wisatawan kemudian dapat mengikuti perjalanan kopi dari pembibitan hingga penyeduhan sambil berinteraksi langsung dengan petani.
Dalam wawancara yang dipublikasikan pada 2021, pengelola menyebut sekitar 34-40 warga dapat dilibatkan sebagai pemandu lokal ketika ada kegiatan kunjungan. Masyarakat juga mengembangkan produk seperti kopi kemasan, keripik, dan sale pisang.
Perkembangan itu membawa Rigis Jaya masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021. Dalam profil resminya, Rigis Jaya tercatat sebagai desa wisata kategori berkembang.
Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa cerita masyarakat dapat menjadi kekuatan pariwisata. Pengunjung bukan hanya melihat kebun, tetapi juga mengenal perjalanan warga yang membangun pekonnya dari keterbatasan.
Menjaga Cerita agar Tidak Hilang
Asal-Usul Nama Rigis Jaya perlu terus diceritakan kepada generasi berikutnya. Cerita tentang bukit bergerigi, kawasan bambu yang terbakar, para pendatang, dan musyawarah pembentukan pekon merupakan bagian dari warisan lokal.
Namun, cerita lisan juga perlu dilengkapi dengan dokumentasi. Wawancara bersama sesepuh, foto lama, arsip pemerintahan, peta wilayah, dan catatan kelompok tani dapat membantu memperkuat sejarah pekon.
Informasi tersebut nantinya dapat digunakan sebagai bahan pendidikan di sekolah, narasi pemandu wisata, isi museum kecil, atau konten digital desa. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto dan minum kopi.
Mereka juga dapat memahami mengapa nama Rigis dipilih dan bagaimana masyarakat mengubah sebuah kawasan perbukitan menjadi ruang hidup yang produktif.
Asal-Usul Nama Rigis Jaya berhubungan erat dengan bentuk perbukitan yang tampak bergerigi. Tradisi lisan masyarakat menambahkan cerita mengenai kawasan bambu kapur yang pernah terbakar hingga terlihat menyerupai mata gergaji.
Nama tersebut kemudian dipilih secara resmi melalui musyawarah masyarakat ketika Rigis Jaya dimekarkan dari Pekon Gunung Terang pada 2010. Sejak saat itu, warga dari berbagai latar belakang membangun pemerintahan, infrastruktur, perkebunan, dan kegiatan wisata secara bertahap.
Kini, Rigis Jaya dikenal sebagai Kampung Kopi tanpa kehilangan hubungan dengan sejarahnya. Mari ikut menjaga cerita lokal ini dengan mengunjungi desanya, menikmati produk petani, mendengarkan kisah warga, serta membagikan informasi sejarah Rigis Jaya secara bertanggung jawab.
FAQ
1. Apa arti nama Rigis Jaya?
Dalam dokumen profil pekon, Rigis berarti bergerigi dan diambil dari bentuk perbukitan di sekitar wilayah tersebut. Nama Rigis Jaya dimaknai sebagai kawasan perbukitan yang bergerigi.
2. Mengapa kawasan tersebut disebut Bukit Rigis?
Cerita masyarakat menyebutkan bahwa rumpun bambu dan pepohonan di perbukitan pernah terbakar. Sisa vegetasinya terlihat bergerigi seperti mata gergaji sehingga warga menyebutnya Bukit Rigis.
3. Kapan Pekon Rigis Jaya resmi dibentuk?
Musyawarah pembentukannya berlangsung pada 7 Februari 2010. Pekon Rigis Jaya kemudian diresmikan oleh Bupati Lampung Barat pada 11 Mei 2010.
4. Rigis Jaya merupakan pemekaran dari pekon mana?
Rigis Jaya merupakan hasil pemekaran dari Pekon Gunung Terang dan sekarang menjadi bagian dari Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat.
5. Apa mata pencaharian utama masyarakat Rigis Jaya?
Banyak masyarakat bekerja di sektor perkebunan, terutama sebagai petani kopi robusta. Saat ini, sebagian warga juga terlibat dalam pengolahan produk, UMKM, jasa wisata, dan pemanduan.
