Pekon Rigis Jaya mungkin lebih sering dikenal melalui hamparan kebun kopi dan destinasi Kampung Kopinya.
Namun, di balik popularitas tersebut terdapat perjalanan panjang masyarakat dalam membuka lahan, membangun permukiman, membentuk pemerintahan pekon, dan mengembangkan potensi daerah secara bersama-sama.
Sejarah Pekon Rigis Jaya juga tidak bisa dipisahkan dari perpindahan masyarakat Semendo, perkembangan perkebunan kopi robusta, serta pemekaran wilayah administratif di Kabupaten Lampung Barat.
Dari kawasan perbukitan yang akses jalannya dahulu cukup sulit, Rigis Jaya perlahan berkembang menjadi desa wisata yang dikenal hingga tingkat nasional.
Kini, pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati secangkir kopi. Mereka juga dapat mempelajari proses budidaya, mengenal kehidupan petani, menjelajahi perbukitan, dan melihat bagaimana masyarakat menjaga tradisi lokal.
Perjalanan inilah yang membuat sejarah Rigis Jaya menarik untuk dibahas: bukan sekadar kisah berdirinya sebuah pekon, tetapi cerita tentang kerja keras, gotong royong, dan kemampuan masyarakat mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi.
Awal Permukiman di Kawasan Pegunungan Rigis
Sejarah kawasan Rigis telah dimulai jauh sebelum Pekon Rigis Jaya resmi berdiri. Salah satu catatan akademik mengenai pertanian di Kecamatan Air Hitam menyebut bahwa masyarakat Semendo dari Sumatera Selatan mulai membuka lahan di kawasan Pegunungan Riggis sekitar tahun 1930.
Kondisi dataran tinggi di wilayah tersebut dianggap mirip dengan daerah asal mereka. Karena itu, masyarakat pendatang mulai menanam kopi robusta yang cocok tumbuh di kawasan pegunungan berhawa sejuk.
Aktivitas pertanian inilah yang kemudian menjadi dasar berkembangnya Air Hitam sebagai salah satu sentra perkebunan kopi di Lampung Barat.
Sementara itu, cerita lokal yang berkembang di tengah masyarakat menyebut tahun 1958 sebagai salah satu masa penting kedatangan penduduk yang membuka lahan di wilayah yang sekarang menjadi Rigis Jaya.
Perbedaan penanda waktu tersebut kemungkinan terjadi karena catatan sekitar 1930 merujuk pada pembukaan kawasan Pegunungan Riggis secara luas, sedangkan tahun 1958 lebih berkaitan dengan pembentukan permukiman di wilayah Rigis Jaya saat ini.
Asal-Usul Nama Rigis Jaya
Nama “Rigis” dipercaya berasal dari bentuk perbukitan di kawasan tersebut. Dalam dokumen profil pekon yang dikutip penelitian mengenai Kampung Kopi Rigis Jaya, kata Rigis dimaknai sebagai “bergerigi”, merujuk pada bentuk bukit yang terlihat tidak rata seperti gerigi.
Dengan tambahan kata “Jaya”, nama Rigis Jaya dapat dimaknai sebagai harapan agar wilayah perbukitan tersebut berkembang menjadi kawasan yang maju dan sejahtera. Nama ini bukan hanya menjadi identitas administratif, tetapi juga menggambarkan karakter geografis daerahnya.
Versi cerita lokal lainnya menghubungkan nama Rigis dengan bukit yang pernah terbakar. Setelah kebakaran, bagian pepohonan dan hutan bambu di perbukitan terlihat membentuk garis-garis bergerigi menyerupai gergaji. Masyarakat terdahulu kemudian menyebut kawasan itu sebagai Bukit Rigis.
Walaupun detail cerita lisan bisa berbeda, keduanya memiliki kesamaan penting. Nama Rigis lahir dari hubungan masyarakat dengan bentang alam di sekitarnya.
Pemekaran dari Pekon Gunung Terang
Sebelum menjadi wilayah pemerintahan sendiri, Rigis Jaya merupakan bagian dari Pekon Gunung Terang. Keinginan untuk membentuk pekon baru muncul seiring berkembangnya jumlah penduduk dan kebutuhan pelayanan pemerintahan yang lebih dekat.
Pada 7 Februari 2010, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, tokoh perempuan, dan para sesepuh dari tiga wilayah kepemangkuan mengadakan musyawarah. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk membentuk pekon baru dengan nama Rigis Jaya.
Pekon Rigis Jaya kemudian diresmikan oleh Bupati Lampung Barat pada 11 Mei 2010. Sugeng ditunjuk sebagai penjabat peratin atau kepala pekon pertama. Dua hari setelah peresmian, tepatnya 13 Mei 2010, kembali dilakukan musyawarah untuk menata pembagian wilayah pemerintahan.
Dari sebelumnya tiga kepemangkuan, wilayah Rigis Jaya dibagi menjadi empat, yaitu Pemangku Atar Obar, Wana Jaya, Buluh Kapur, dan Rejosari. Pembagian ini membantu pemerintah pekon menjalankan pelayanan masyarakat serta mengoordinasikan kegiatan pembangunan.
Menjadi Bagian dari Kecamatan Air Hitam
Pembentukan Pekon Rigis Jaya berlangsung pada masa penataan wilayah administratif di Kabupaten Lampung Barat. Kecamatan Air Hitam sendiri dibentuk melalui pemekaran Kecamatan Way Tenong berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Barat Nomor 2 Tahun 2010.
Sebelum pemekaran kecamatan, Rigis Jaya masih tercatat sebagai bagian dari wilayah Kecamatan Way Tenong. Setelah Kecamatan Air Hitam dibentuk, Rigis Jaya menjadi salah satu dari sepuluh pekon yang masuk ke wilayah kecamatan tersebut. Ibu kota Kecamatan Air Hitam ditetapkan berada di Pekon Semarang Jaya.
Perubahan administratif ini cukup penting dalam sejarah Desa Rigis Jaya. Pemerintahan yang lebih dekat memberikan peluang lebih besar bagi masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik, menyampaikan aspirasi, serta mengembangkan program pembangunan sesuai potensi lokal.
Kondisi Rigis Jaya pada Masa Awal Berdiri
Peresmian sebagai pekon baru tidak serta-merta membuat seluruh fasilitas tersedia. Pada masa awal berdiri, jalan utama Rigis Jaya masih berupa tanah liat. Ketika hujan turun, jalan menjadi licin dan sulit dilalui kendaraan.
Saat itu, Rigis Jaya juga belum memiliki balai pekon yang memadai. Pemerintah dan masyarakat harus membangun fasilitas pemerintahan secara bertahap sambil tetap menjalankan kegiatan sehari-hari sebagai petani.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan Rigis Jaya tidak terjadi secara instan. Kemajuan pekon merupakan hasil kerja bersama masyarakat, pemerintah, kelompok tani, pemuda, ibu-ibu PKK, Badan Usaha Milik Desa, dan Kelompok Sadar Wisata.
Budaya gotong royong terus dipertahankan. Dalam pengembangan desa wisata, misalnya, warga melakukan kegiatan kebersihan dan penataan lingkungan secara rutin agar kawasan pekon terlihat nyaman, bersih, dan menarik bagi pengunjung.
Kopi sebagai Identitas dan Sumber Kehidupan
Kopi merupakan bagian terpenting dalam perkembangan sosial dan ekonomi Pekon Rigis Jaya. Tanaman ini telah dibudidayakan masyarakat secara turun-temurun dan menjadi sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga.
Letak Rigis Jaya yang berada di kawasan dataran tinggi mendukung pertumbuhan kopi robusta. Profil Desa Wisata Rigis Jaya menyebut kawasan ini berada pada ketinggian sekitar 860-1.310 meter di atas permukaan laut.
Sebagian besar lanskapnya terdiri atas kebun, perbukitan, dan kawasan hijau yang cocok dikembangkan sebagai agrowisata.
Kopi di Rigis Jaya bukan hanya hasil pertanian yang dijual setelah panen. Pengetahuan mengenai pembibitan, perawatan tanaman, pemetikan buah merah, pengeringan, penyangraian, hingga penyeduhan juga menjadi warisan keterampilan masyarakat.
Kekuatan inilah yang kemudian mendorong lahirnya gagasan untuk menjadikan kebun kopi sebagai ruang edukasi. Petani tidak lagi hanya berperan sebagai penghasil bahan mentah, tetapi juga menjadi pemandu, pengolah produk, pelaku UMKM, dan bagian penting dari kegiatan pariwisata.
Lahirnya Kampung Kopi Rigis Jaya
Gagasan pengembangan Kampung Kopi mulai mendapatkan perhatian besar sekitar tahun 2017. Pemerintah Kabupaten Lampung Barat merencanakan Rigis Jaya sebagai pusat edukasi kopi yang mencakup kegiatan pembelajaran, pengembangan komoditas, dan pariwisata berbasis perkebunan.
Pada saat itu, Rigis Jaya dipilih karena dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil kopi berkualitas di Lampung Barat. Pemerintah pekon juga memanfaatkan kawasan hutan kemasyarakatan yang dikelola warga sebagai bagian dari pengembangan Kampung Kopi.
Kampung Kopi Rigis Jaya secara resmi diluncurkan pada 22 Juli 2018 dalam rangkaian Festival Kopi Lampung Barat. Peresmian tersebut menjadi titik penting dalam perubahan citra Rigis Jaya dari pekon pertanian menjadi destinasi wisata edukasi.
Melalui paket perjalanan secangkir kopi, pengunjung dapat mengikuti proses kopi dari hulu sampai hilir. Wisatawan bisa melihat pembibitan, berjalan di kebun, belajar memetik buah yang matang, mengenal pengolahan pascapanen, hingga menyeduh kopi sendiri.
Dari Desa Tertinggal Menuju Pengakuan Nasional
Perjalanan Rigis Jaya semakin dikenal ketika desa wisata ini masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia atau ADWI 2021. Pada ajang yang sama, Rigis Jaya meraih juara ketiga kategori Desa Wisata Rintisan.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa desa dengan basis pertanian dapat berkembang tanpa meninggalkan karakter aslinya. Rigis Jaya tidak membangun pariwisata dengan mengganti kebun kopi menjadi fasilitas modern, melainkan menjadikan kehidupan petani sebagai pengalaman utama bagi wisatawan.
Saat ini, Desa Wisata Rigis Jaya tercatat dalam kategori desa wisata berkembang. Daya tariknya mencakup edukasi kopi, penjelajahan Bukit Rigis, pertunjukan Tari Nyambai, musik tradisional Gamolan Pekhing, kerajinan, kuliner, camping ground, dan homestay milik masyarakat.
Transformasi tersebut turut menciptakan kesempatan usaha baru. Warga bisa menjual kopi kemasan, makanan tradisional, kerajinan, jasa pemandu, hingga layanan penginapan.
Pentingnya Menjaga Sejarah Pekon Rigis Jaya
Popularitas Kampung Kopi sebaiknya tidak membuat sejarah awal Rigis Jaya terlupakan. Cerita tentang pendatang Semendo, pembukaan kebun, pemekaran dari Gunung Terang, dan perjuangan membangun infrastruktur merupakan bagian penting dari identitas masyarakat.
Sejarah lokal juga dapat menjadi daya tarik wisata tersendiri. Pemandu wisata, misalnya, tidak hanya menjelaskan cara mengolah kopi, tetapi juga bisa menceritakan asal nama Bukit Rigis dan perjalanan masyarakat membangun pekon.
Dokumentasi sejarah perlu terus dilakukan melalui tulisan, rekaman wawancara dengan sesepuh, foto lama, serta arsip pemerintahan. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya mengenal Rigis Jaya sebagai tempat wisata yang Instagramable, tetapi memahami perjuangan panjang di balik kemajuannya.
Sejarah Pekon Rigis Jaya memperlihatkan perjalanan masyarakat dari kawasan perkebunan di Pegunungan Rigis menuju pekon mandiri dan desa wisata unggulan.
Perkembangan tersebut dimulai dari aktivitas masyarakat Semendo dalam membuka lahan dan menanam kopi, dilanjutkan pemekaran dari Pekon Gunung Terang pada 2010, hingga peresmian Kampung Kopi pada 2018.
Kopi robusta menjadi penghubung antara sejarah, ekonomi, budaya, dan pariwisata Rigis Jaya. Berkat gotong royong masyarakat, komoditas pertanian ini berhasil dikembangkan menjadi pengalaman wisata edukatif yang memperoleh pengakuan nasional.
Mari mengenal Rigis Jaya bukan hanya melalui rasa kopinya. Kunjungi kebunnya, dengarkan kisah masyarakatnya, nikmati produk lokal, dan ikut mendukung pelestarian sejarah serta ekonomi petani Lampung Barat.
FAQ
1. Kapan Pekon Rigis Jaya dibentuk?
Musyawarah pembentukan Pekon Rigis Jaya berlangsung pada 7 Februari 2010. Pekon ini kemudian diresmikan oleh Bupati Lampung Barat pada 11 Mei 2010.
2. Rigis Jaya merupakan pemekaran dari pekon mana?
Rigis Jaya merupakan hasil pemekaran dari Pekon Gunung Terang yang sekarang berada di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat.
3. Apa arti nama Rigis Jaya?
Kata “Rigis” berarti bergerigi dan merujuk pada bentuk perbukitan di wilayah tersebut. Rigis Jaya dapat dimaknai sebagai kawasan perbukitan bergerigi yang diharapkan terus maju.
4. Kapan Kampung Kopi Rigis Jaya diresmikan?
Kampung Kopi Rigis Jaya diresmikan pada 22 Juli 2018 dalam rangkaian Festival Kopi Lampung Barat.
5. Apa pencapaian nasional Desa Wisata Rigis Jaya?
Rigis Jaya masuk dalam 50 besar ADWI 2021 dan meraih juara ketiga kategori Desa Wisata Rintisan.
